Sindroma Reiter
DEFINISI
Sindroma Reiter merupakan peradangan pada sendi dan tendon (urat daging) yang melengkapinya, sering disertai dengan peradangan pada konjungtiva mata dan selaput lendir (misalnya di mulut, saluran kemih, vagina dan penis), dan ruam-ruam yang khas.
Sindroma Reiter disebut artritis reaktif karena peradangan sendi muncul sebagai reaksi terhadap infeksi yang berasal dari bagian tubuh lainnya selain sendi.
Terdapat 2 bentuk Sindroma Reiter:
1. Terjadi dengan penyakit menular seksual seperti infeksi klamidia, dan lebih sering terjadi pada laki-laki muda
2. Terjadi setelah infeksi saluran pencernaan, misalnya salmonelosis.
PENYEBAB
Penyebab yang pasti dari sindroma Reiter tidak diketahui.
Paling sering terjadi pada pria yang berusia kurang dari 40 tahun.
Bisa timbul setelah terjadinya penyakit menular seksual atau infeksi disenterik karena Chlamydia, Campylobacter, Salmonella atau Yersinia.
Faktor genetik kemungkinan berperan dalam terjadinya penyakit ini.
GEJALA
Gejalanya dimulai dalam 7-14 hari setelah terjadinya infeksi.
Gejala awalnya sering berupa peradangan uretra (saluran yang membawa air kemih dari kandung kemih keluar tubuh).
Pada laki-laki, peradangan ini menyebabkan nyeri dan keluarnya nanah dari penis. Kelenjar prostat bisa meradang dan nyeri.
Gejala saluran kemih-kelamin pada wanita biasanya ringan, berupa keputihan ringan atau nyeri waktu berkemih.
Konjungtiva (selaput yang melapisi kelopak mata dan bola mata) bisa menjadi merah dan meradang, menyebabkan rasa gatal atau rasa terbakar dan pengeluaran air mata yang berlebihan.
Nyeri dan peradangan sendi bisa ringan atau berat.
Beberapa sendi biasanya terkena, terutama lutut, sendi jari kaki dan daerah dimana tendon (urat otot) menempel ke tulang (misalnya tumit).
Pada kasus yang lebih berat, nyeri dan peradangan bisa mengenai tulang belakang.
Luka kecil yang tidak terasa nyeri bisa terjadi di mulut, lidah dan ujung penis.
Kadang-kadang ruam yang khas dari bintik tebal dan keras, bisa timbul di kulit, terutama pada telapak tangan dan telapak kaki.
Endapan kuning bisa terbentuk dibawah kuku jari tangan dan kuku jari kaki.
Pada sebagian besar penderita, gejala awalnya menghilang dalam 3-4 bulan.
Pada 50% penderita, artritis dan gejala lainnya muncul lagi setelah beberapa tahun.
Jika gejalanya menetap atau sering kambuh, bisa terjadi kelainan bentuk pada sendi dan tulang belakang.
Sindroma Reiter
DIAGNOSA
Adanya gabungan dari gejala-gejala pada sendi, alat kelamin, alat kemih, kulit dan mata mengarah kepada diagnosis penyakit ini.
Karena gejala-gejala ini tidak muncul bersamaan, penyakit ini mungkin tidak terdiagnosis selama beberapa bulan.
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang dapat memperkuat diagnosis penyakit ini.
Untuk mencoba menentukan organisme penyebab infeksi yang memicu sindroma ini bisa dilakukan pemeriksaan terhadap contoh dari uretra atau cairan sendi, atau biopsi sendi.
PENGOBATAN
Antibiotik diberikan untuk mengobati infeksinya, tetapi pengobatan ini tidak selalu berhasil dan lamanya pemberian yang optimal tidak diketahui.
Artritis biasanya diobati dengan obat anti peradangan non-steroid.
Bisa juga digunakan obat imunosupresan, seperti sulfasalazin atau metotreksat.
Kortikosteroid disuntikkan langsung ke dalam sendi yang meradang.
Konjungtivitis dan luka di kulit tidak perlu diobati, tetapi peradangan mata yang berat mungkin memerlukan salep atau tetes mata kortikosteroid.
Sabtu, 12 Desember 2009
Tekanan Batin dan Stress
Di tengah-tengah masyarakat kita sering mendengar adanya keluhan stress yang luar biasa. Kondisi yang sepertinya belum pernah kita alami sebelumnya, serta tidak ada lagi kemampuan memberikan perhatian kepada apapun. Biasanya apabila kondisi stress tersebut berlarut-larut, larilah kita kepada psikiater atau bahkan “orang pintar” untuk melakukan pengobatan. Pada satu kasus pengobatan dengan jalan psikiater atau orang pintar tersebut berhasil, namun adakalanya pengobatan tersebut tidak mengembalikan kita kepada kondisi semula. Bila memiliki keimanan pada Yang Maha Kuasa, kita juga akan menempuh jalan permohonan untuk kesembuhan dari perasaan tertekan dan kesedihan jiwa atau memohon petunjuk atas pengobatan yang terbaik, agar kita bisa kembali kepada kondisi normal. Dalam suatu keadaan misterius yang kita tidak pahami, matahati kita akan memiliki kecenderungan pada sesuatu yang biasanya merupakan jalan keluar. Hal itu memerlukan keyakinan dan pegangan yang kokoh. Bila kita beragama Islam, maka berpegang teguhlah kepada Allah SWT yang disertai berbaik sangka, berserah diri atas perkara kita kepadaNya, serta tiada berputus asa dari rahmat, karunia dan kebaikanNya. Hal itu juga harus dipahamkan dengan keyakinan bahwa sesungguhnya Allah SWT tidak akan menurunkan penyakit melainkan menurunkan juga obatnya. Setelah setelan gelombang hati dan jiwa kita stabil, maka mencari segala sebab untuk kesembuhan berobat dapat terus ditempuh sampai akhirnya kesembuhan bersinar. Ada kalanya bahkan kita belum bergerak menemui psikiater/dokter, kesembuhan sudah datang karena kita meyakini manfaat bacaan surah Al-Ikhlas, surah Al-Falaq, surah An-Nas atas stress berat yang menghantui kita.
Bila kita seorang Kristiani atau Katholik, maka keyakinan atas kasih sayang Tuhan juga akan membimbing matahati kita untuk meneliti dan melihat ke dalam situasi stress, dengan harapan perasaan stress itu diangkat. Adakalanya kita menemui pendeta untuk mendapatkan sentuhan keruhanian yang akan memperkokoh keyakinan kita akan kesembuhan dari Tuhan.
Bila kita seorang Hindu, kecenderungan untuk melakukan introspeksi melalui mekanisme meditasi dan do’a serta pemantapan keyakinan pada proses meditasi tersebut akan membimbing kita dalam proses penghilangan beban yang meyebabkan stress berat.
Bila kita seorang Buddha, cukup jelas bahwa jalan meditasi dan penempuhan jalan (besar dan kecil) dalam pujian Sang Buddha akan membuka pintu-pintu level pemahaman atas diri kita yang pada gilirannya juga akan menyingkirkan stress berat yang hinggap begitu saja.
Bahkan bila kita seorang penghayat kepercayaan, keyakinan pada kuasa utama atas diri manusia akan membimbing kita pada suatu jalan matahati yang secara misterius mengangkat penderitaan stress tersebut.
Singkat kata, betapapun baiknya suatu ajaran atau agama, apa yang lebih penting dan hakiki adalah keyakinan, diperlukan suatu kesungguhan yang memantapkan keyakinan dalam pemahaman yang benar untuk menjalankan keajaiban matahati, khususnya dalam menghadapi persoalan yang terkait dengan kondisi kesehatan psikis dan jiwa kita.
Bila kita seorang Kristiani atau Katholik, maka keyakinan atas kasih sayang Tuhan juga akan membimbing matahati kita untuk meneliti dan melihat ke dalam situasi stress, dengan harapan perasaan stress itu diangkat. Adakalanya kita menemui pendeta untuk mendapatkan sentuhan keruhanian yang akan memperkokoh keyakinan kita akan kesembuhan dari Tuhan.
Bila kita seorang Hindu, kecenderungan untuk melakukan introspeksi melalui mekanisme meditasi dan do’a serta pemantapan keyakinan pada proses meditasi tersebut akan membimbing kita dalam proses penghilangan beban yang meyebabkan stress berat.
Bila kita seorang Buddha, cukup jelas bahwa jalan meditasi dan penempuhan jalan (besar dan kecil) dalam pujian Sang Buddha akan membuka pintu-pintu level pemahaman atas diri kita yang pada gilirannya juga akan menyingkirkan stress berat yang hinggap begitu saja.
Bahkan bila kita seorang penghayat kepercayaan, keyakinan pada kuasa utama atas diri manusia akan membimbing kita pada suatu jalan matahati yang secara misterius mengangkat penderitaan stress tersebut.
Singkat kata, betapapun baiknya suatu ajaran atau agama, apa yang lebih penting dan hakiki adalah keyakinan, diperlukan suatu kesungguhan yang memantapkan keyakinan dalam pemahaman yang benar untuk menjalankan keajaiban matahati, khususnya dalam menghadapi persoalan yang terkait dengan kondisi kesehatan psikis dan jiwa kita.
teori kecemasan
Teori Kecemasan Berdasarkan
Psikoanalisis Klasik dan
Berbagai Mekanisme Pertahanan
terhadap Kecemasan
Andri*, Yenny Dewi P**
*Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Rumah Sakit Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta
**Departemen Kesehatan Jiwa Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta
Abstrak: Teori kecemasan oleh Freud pertama kali diungkapkan tahun 1890, berawal dari
sebuah pemikiran bahwa kecemasan merupakan libido yang mengendap. Selanjutnya Freud
setuju dengan koleganya Otto Rank bahwa asal mula kecemasan berawal dari trauma masa
lahir. Kecemasan menurut Freud dibagi menjadi tiga yaitu kecemasan realitas, kecemasan
neurosis, dan kecemasan moral. Freud membagi kecemasan neurosis menjadi tiga bagian yang
berbeda yaitu kecemasan yang didapat karena adanya faktor dalam dan luar yang menakutkan,
kecemasan yang terkait dengan objek tertentu yang bermanifestasi seperti fobia, kecemasan
neurotik yang tidak berhubungan dengan faktor-faktor berbahaya dari dalam dan luar.
Mekanisme pertahanan terhadap kecemasan ada beberapa yaitu Represi, Reaksi Formasi,
Proyeksi, Regresi, Rasionalisasi, Pemindahan, Sublimasi, Isolasi, Undoing dan Intelektualisasi
Kata Kunci: teori kecemasan, Freud, mekanisme pertahanan
Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 7, Juli 2007
Teori Kecemasan Berdasarkan Psikoanalisis Klasik
Anxiety Theory Based On Classic Psychoanalitic and Types of
Defense Mechanism To Anxiety
Andri*, Yenny Dewi P**
*Department of Psychiatry Faculty of Medicine University of Indonesia,
Cipto Mangunkusumo General Hospital
**Department of Mental Health, Gatot Subroto Army Central Hospital
Abstract: Anxiety theory was introduced by Freud in 1890. It began with a thought that anxiety
comes from the unrevealed libido. Afterward Freud than agree with his colleague, Otto Rank that
the nature of anxiety begin from early birth traumatic. Freud divided anxiety into three categories;
reality anxiety, neurotic anxiety, and moral anxiety. Then Freud divided again the neurotic anxiety
into three different part; anxiety because of the frightened inside and outside factor, anxiety that
related to specific object that manifested as phobia, and neurotic anxiety that has nothing to do with
the inside and outside factor. There are some defense mechanism to anxiety situation; repression,
reaction formation, projection, regression, rationalization, displacement, sublimation, isolation,
undoing and intellectualization .
Key words: anxiety theory, Freud, defense mechanism
Pendahuluan
Teori Freud tentang kecemasan pertama kali didasari
oleh suatu pemikiran berani yang mengungkapkan analogi
dari kesamaan respon tubuh selama serangan kecemasan
dengan yang terlihat saat berhubungan seksual (palpitasi,
nafas berat). Teori ini dikemukakan sekitar tahun 1894
sebagai penyambung dari teori koitus interuptus yang
sebelumnya telah dikemukakan.1 Sebelumnya pada tahun
1890, Freud melalui observasi klinisnya mengatakan bahwa
kecemasan adalah hasil dari “libido yang mengendap”. Freud
ingin mengatakan bahwa peningkatan fisiologis dari tekanan
seksual mengarah kepada peningkatan libido yang
merupakan representasi mental dari peristiwa fisiologis
tersebut. Pelepasan yang normal dari tekanan seksual ini
menurut pandangan Freud adalah melalui hubungan seksual.
Sedangkan banyak praktek seksual yang menurut Freud tidak
normal seperti koitus interuptus dan abstinensi, yang
akhirnya menahan pelepasan tekanan itu dan berakhir pada
neurosis sebenarnya (actual neurosis). Beberapa kondisi
peningkatan kecemasan yang berhubungan dengan
penahanan pelepasan libido termasuk neurasthenia,
hipokondriasis dan kecemasan neurosis. 2
Asal Mula Kecemasan
Freud melihat kecemasan sebagai bagian penting dari
sistem kepribadian, hal yang merupakan suatu landasan dan
pusat dari perkembangan perilaku neurosis dan psikosis.
Freud mengatakan bahwa prototipe dari semua anxietas
adalah trauma masa lahir (suatu pendapat yang pertama kali
dikemukakan oleh kolega Otto Rank).
Janin saat dalam masa kandungan merasa dalam dunia
yang nyaman, stabil dan aman dengan setiap kebutuhan
dapat dipuaskan tanpa ada penundaan. Tiba-tiba saat lahir
individu dihadapkan pada lingkungan yang bermusuhan .
Individu kemudian harus beradaptasi dengan realitas, yaitu
kebutuhan instinktual tidak selalu dapat ditemukan. Sistem
saraf bayi yang baru lahir masih mentah dan belum tersiapkan,
tiba-tiba dibombardir dengan stimulus sensorik yang keras
dan terus-menerus.
Trauma lahir, dengan peningkatan kecemasan dan
ketakutan bahwa Id (aspek dari kepribadian yang
berhubungan dengan dorongan insting yang merupakan
sumber energi psikis yang bekerja berdasarkan prinsip
kepuasan/pleasure principle dan selalu ingin dipuaskan)
tidak dapat terpuaskan merupakan pengalaman pertama
individu dengan ketakutan dan kecemasan. Dari pengalaman
ini diciptakan pola teladan dari reaksi dan tingkat perasaan
yang akan terjadi kapan saja pada individu yang ditunjukkan
bila berhadapan dengan bahaya di masa depan. Ketika
individu tidak mampu melakukan coping terhadap anxietasnya
pada waktu dalam keadaan bahaya atau berlebihan, maka
kecemasan itu disebut sebagai traumatik. Apa yang dimaksud
Freud dengan hal ini adalah individu, tak dihitung berapa
usianya, mundur pada suatu tahapan tak berdaya sama sekali,
Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 7, Juli 2007
Teori Kecemasan Berdasarkan Psikoanalisis Klasik
seperti keadaan pada janin. Pada kehidupan dewasa,
ketidakberdayaan infantil diberlakukan kembali, untuk
beberapa tingkatan, dimana ego terancam.3
Kecemasan Menurut Freud
Freud membagi kecemasan menjadi tiga, yaitu:
a.
Kecemasan Realitas atau Objektif (Reality or Objective
Anxiety)
Suatu kecemasan yang bersumber dari adanya ketakutan
terhadap bahaya yang mengancam di dunia nyata.
Kecemasan seperti ini misalnya ketakutan terhadap
kebakaran, angin tornado, gempa bumi, atau binatang
buas. Kecemasan ini menuntun kita untuk berperilaku
bagaimana menghadapi bahaya. Tidak jarang ketakutan
yang bersumber pada realitas ini menjadi ekstrim.
Seseorang dapat menjadi sangat takut untuk keluar
rumah karena takut terjadi kecelakaan pada dirinya atau
takut menyalakan korek api karena takut terjadi
kebakaran.3,4
b.
Kecemasan Neurosis (Neurotic Anxiety)
Kecemasan ini mempunyai dasar pada masa kecil, pada
konflik antara pemuasan instingtual dan realitas. Pada
masa kecil, terkadang beberapa kali seorang anak
mengalami hukuman dari orang tua akibat pemenuhan
kebutuhan id yang implusif Terutama sekali yang
berhubungan dengan pemenuhan insting seksual atau
agresif. Anak biasanya dihukum karena secara berlebihan
mengekspresikan impuls seksual atau agresifnya itu.
Kecemasan atau ketakutan untuk itu berkembang karena
adanya harapan untuk memuaskan impuls Id tertentu.
Kecemasan neurotik yang muncul adalah ketakutan akan
terkena hukuman karena memperlihatkan perilaku
impulsif yang didominasi oleh Id. Hal yang perlu
diperhatikan adalah ketakutan terjadi bukan karena
ketakutan terhadap insting tersebut tapi merupakan
ketakutan atas apa yang akan terjadi bila insting tersebut
dipuaskan. Konflik yang terjadi adalah di antara Id dan
Ego yang kita ketahui mempunyai dasar dalam realitas.3,4
c.
Kecemasan Moral (Moral Anxiety)
Kecemasan ini merupakan hasil dari konflik antara Id
dan superego. Secara dasar merupakan ketakutan akan
suara hati individu sendiri. Ketika individu termotivasi
untuk mengekspresikan impuls instingtual yang
berlawanan dengan nilai moral yang termaksud dalam
superego individu itu maka ia akan merasa malu atau
bersalah. Pada kehidupan sehari-hari ia akan menemukan
dirinya sebagai “conscience stricken”. Kecemasan moral
menjelaskan bagaimana berkembangnya superego.
Biasanya individu dengan kata hati yang kuat dan puritan
akan mengalami konfllik yang lebih hebat daripada
individu yang mempunyai kondisi toleransi moral yang
Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 7, Juli 2007
lebih longgar. Seperti kecemasan neurosis, kecemasan
moral juga mempunyai dasar dalam kehidupan nyata.
Anak-anak akan dihukum bila melanggar aturan yang
ditetapkan orang tua mereka. Orang dewasa juga akan
mendapatkan hukuman jika melanggar norma yang ada
di masyarakat. Rasa malu dan perasaan bersalah
menyertai kecemasan moral. Dapat dikatakan bahwa yang
menyebabkan kecemasan adalah kata hati individu itu
sendiri. Freud mengatakan bahwa superego dapat
memberikan balasan yang setimpal karena pelanggaran
terhadap aturan moral.3,4
Apapun tipenya, kecemasan merupakan suatu tanda
peringatan kepada individu. Hal ini menyebabkan tekanan
pada individu dan menjadi dorongan pada individu termotivasi
untuk memuaskan. Tekanan ini harus dikurangi.
Kecemasan memberikan peringatan kepada individu
bahwa ego sedang dalam ancaman dan oleh karena itu
apabila tidak ada tindakan maka ego akan terbuang secara
keseluruhan. Ada berbagai cara ego melindungi dan
mempertahankan dirinya. Individu akan mencoba lari dari
situasi yang mengancam serta berusaha untuk membatasi
kebutuhan impuls yang merupakan sumber bahaya.
Individu juga dapat mengikuti kata hatinya. Atau jika
tidak ada teknik rasional yang bekerja, individu dapat
memakai mekanisme pertahanan (defence mechanism)
yang non-rasional untuk mempertahankan ego.
Kecemasan Neurosis
Freud membagi kecemasan neurosis (neorotic anxiety)
menjadi tiga bagian yang berbeda seperti di bawah ini:5
a. kecemasan yang didapat karena adanya faktor dalam dan
luar yang menakutkan
b. kecemasan yang terkait dengan objek tertentu yang
bermanifestasi seperti fobia
c. kecemasan neurotik yang tidak berhubungan dengan
faktor-faktor berbahaya dari dalam dan luar.
Kecemasan yang bermanifestasi dalam gangguan panik
merupakan bagian dari kelompok yang ketiga, terutama jika
penderita pada serangan pertama tidak mampu menjelaskan
hubungan antara pengalaman itu dengan adanya bahaya yang
mampu dikenali. Gejala fisiologis yang timbul pada saat
serangan panik tersebut seperti palpitasi, dispnea, adanya
rasa takut mati, dan adanya kecemasan akan terulangnya
kejadian tersebut. Perasaan takut gila juga sering terdapat
pada serangan panik karena ketidakmampuan penderita
mengkontrol pikirannya saat itu. Saat serangan panik timbul
pertama kali misalnya di tempat umum saat makan di restoran,
mengendarai bus atau berjalan di pasar, maka akan ada rasa
ketakutan yang berupa fobia di mana penderita merasakan
ketakutan jika serangan itu terjadi lagi dalam keadaan
demikian sehingga dia berusaha untuk menghindari keadaan
tersebut. Dalam klinik kita kenal sebagai agorafobia. Ada
Teori Kecemasan Berdasarkan Psikoanalisis Klasik
perbedaan yang mencolok antara ketakutan pada situasi
tertentu (fobia khas) dengan gangguan panik, yaitu bahwa
fobia khas biasanya berhubungan dengan situasi tertentu
yang penderita ketahui dan ada kecenderungan untuk
menghindari situasi tertentu itu. Sedang pada serangan panik
terkadang penderita tidak mengetahui keadaan atau situasi
tertentu yang memicu timbulnya serangan panik.5
Menurut klasifikasi Freud fobia khas yang disebut
sebagai psychoneurosis dan kecemasan neurosis yang
disebut neurosis yang sebenarnya (actual neurosis) berbeda.
Hal ini dikarenakan bahwa ide dasar pada psiko-neurosis
ditandai oleh tanda kecemasan yang mengingatkan
kepada situasi bahaya yang pernah ditemui sebelumnya,
sedangkan kecemasan neurosis dan segala bentuk neurosis
yang sesungguhnya merupakan kecemasan yang berhubungan
dengan pengalaman sekarang dari ketidak-puasan
libido. Pada kecemasan jenis ini energi libido atau dorongan
seksual tidak terpuaskan dan terganggu pada saat pelepasannya.
Salah satu yang membedakan dengan fobia atau
histeria adalah bahwa gangguan ini berasal dari perkembangan
seksual infantil. Menurut Freud, munculnya
kecemasan pada kecemasan neurosis bukanlah berasal dari
sebuah konflik akan tetapi berasal dari konsepsi asli dengan
tidak dilepaskannya libido yang kemudian berubah menjadi
kecemasan dalam bentuknya yang beracun. Hal ini dapat
menjelaskan mengapa pada kecemasan neurosis akan
mencapai sebuah tahapan panik sedangkan pada fobia tetap
merupakan suatu sinyal kewaspadaan yang membuat
penderita menghindari bahaya atau situasi yang dari
pengalamannya dapat menyebabkan suatu kecemasan. Akan
tetapi penjelasan di atas tidak dapat sepenuhnya diambil
sebagai suatu pegangan yang mutlak. Kenyataan bahwa
pada penderita fobia yang mengalami serangan panik jika
tidak mampu menghindari atau terjebak dalam suasana yang
menakutkan (fobic situation) membuat kita dapat mengatakan
bahwa pada dasarnya kecemasan pada fobia dan kecemasan
neurosis berasal dari sumber yang sama. Pada kecemasan
neurosis manifestasi kecemasan terlihat lebih nyata daripada
fobia karena mekanisme pertahanan pada kecemasan neurosis
bermula sejak mula dan tidak sempurna terbentuk seperti
pada pasien fobia. Atau mekanisme pertahanannya tidak siap
dimobilisasi segera untuk digunakan oleh the self sebagai
imbas dari pikiran-pikiran atau fantasi nirsadar atau prasadar.
Tanda kecemasan yang akan mengaktifkan mekanisme pertahanan
tidak terjadi, sehingga kecemasan akan mengambil
bentuk primer dari kecemasan yang berujung pada serangan
panik.5
Freud mengatakan bahwa ada empat bentuk kecemasan
yang berhubungan dengan fase perkembangan anak. Bentuk
yang paling awal muncul adalah kecemasan terhadap
disintegrasi atau penghancuran diri saat bayi baru pertama
kali datang ke dunia ini. Kecemasan berikutnya adalah
kecemasan perpisahan yang dirasakan oleh bayi karena
perpisahan dengan ibunya. Ketiga adalah kecemasan yang
berhubungan dengan fase psikoseksual menurut Freud,
ketika anak perempuan mempunyai kecemasan akan
hilangnya figur yang bermakna yaitu ibunya dan anak lakilaki
mempunyai kecemasan mengalami pemotongan penisnya
yang dilakukan oleh figur berkuasa yaitu ayahnya sendiri
atau sering disebut castration anxiety. Kecemasan terakhir
yaitu kecemasan superego yaitu ketika figur orangtua sudah
mulai terbentuk sehingga anak mempunyai kecemasan bahwa
suatu saat orang tua dapat menghentikan cintanya kepada
dirinya atau memarahi dirinya.2 Walau ide tentang adanya
perpisahan atau ancaman perpisahan dengan ibu cocok
dengan adanya suatu peringatan terhadap the self akibat
perpisahan tersebut, namun dirasakan tidak cocok untuk
mengerti kebanyakan dari gejala serangan panik yaitu
disintegrasi dari the self dan pemusnahan diri.5
Freud sudah berusaha keras untuk mencari bentuk
prototipe yang secara umum cocok untuk semua bentuk dari
kecemasan. Dia juga mengatakan bahwa trauma lahir yang
diperkenalkan oleh Rank merupakan pengalaman paling dasar
dari kecemasan.
Perkembangan psikoanalisis sekarang ini terutama pada
teori narsisistik dan diri telah banyak memberikan pengetahuan
yang lebih terhadap pemahaman dari asal muasal
kecemasan/panik. Pada teori psikologi diri (self psychology)
yang diperkenalkan oleh Kohut ada penambahan dari bentuk
kecemasan yang diperkenalkan Freud. Dua tambahan itu
adalah kecemasan akan disintegrasi diri dan kecemasan akan
pemusnahan diri. Ada kemiripan antara bentuk kecemasan
ini dengan ketakutan menjadi gila dan ketakutan akan
kematian pada penderita serangan panik. Namun hal ini
berbeda dengan pengalaman nyata disintegrasi diri dan
pemusnahan diri pada pengalaman prepsikotik pada pasien
dengan gangguan kepribadian narsisistik yang berat.
Perbedaan lain adalah bahwa regresi pada pasien panik lebih
terbatas daripada pasien dengan gangguan kepribadian
narsisistik. Struktur ego pada individu dengan kecemasan
panik lebih kuat daripada individu dengan gangguan
kepribadian narsisistik.5
Mekanisme Pertahanan terhadap Kecemasan
Kecemasan berfungsi sebagai tanda adanya bahaya
yang akan terjadi, suatu ancaman terhadap ego yang harus
dihindari atau dilawan. Dalam hal ini ego harus mengurangi
konflik antara kemauan Id dan Superego. Konflik ini akan
selalu ada dalam kehidupan manusia karena menurut Freud,
insting akan selalu mencari pemuasan sedangkan lingkungan
sosial dan moral membatasi pemuasan tersebut. Sehingga
menurut Freud suatu pertahanan akan selalu beroperasi
secara luas dalam segi kehidupan manusia. Layaknya semua
perilaku dimotivasi oleh insting, begitu juga semua perilaku
mempunyai pertahanan secara alami, dalam hal untuk melawan
kecemasan.3
Freud membuat postulat tentang beberapa mekanisme
pertahanan namun mencatat bahwa jarang sekali individu
Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 7, Juli 2007
menggunakan hanya satu pertahanan saja. Biasanya individu
akan menggunakan beberapa mekanisme pertahanan pada
satu saat yang bersamaan. Ada dua karakteristik penting
dari mekanisme pertahanan. Pertama adalah bahwa mereka
merupakan bentuk penolakan atau gangguan terhadap
realitas. Kedua adalah bahwa mekanisme pertahanan
berlangsung tanpa disadari. Kita sebenarnya berbohong
pada diri kita sendiri namun tidak menyadari telah berlaku
demikian. Tentu saja jika kita mengetahui bahwa kita berbohong
maka mekanisme pertahanan tidak akan efektif. Jika
mekanisme pertahanan bekerja dengan baik, pertahanan akan
menjaga segala ancaman tetap berada di luar kesadaran kita.
Sebagai hasilnya kita tidak mengetahui kebenaran tentang
diri kita sendiri. Kita telah terpecah oleh gambaran keinginan,
ketakutan, kepemilikan dan segala macam lainnya.3,6,7
Beberapa mekanisme pertahanan yang digunakan untuk
melawan kecemasan antara lain adalah:3,6,7
a.
Represi
Dalam terminologi Freud, represi adalah pelepasan tanpa
sengaja sesuatu dari kesadaran (conscious). Pada
dasarnya merupakan upaya penolakan secara tidak sadar
terhadap sesuatu yang membuat tidak nyaman atau
menyakitkan. Konsep tentang represi merupakan dasar
dari sistem kepribadian Freud dan berhubungan dengan
semua perilaku neurosis.
b.
Reaksi Formasi
Reaksi formasi adalah bagaimana mengubah suatu impuls
yang mengancam dan tidak sesuai serta tidak dapat
diterima norma sosial diubah menjadi suatu bentuk yang
lebih dapat diterima. Misalnya seorang yang mempunyai
impuls seksual yang tinggi menjadi seorang yang
dengan gigih menentang pornografi. Lain lagi misalnya
seseorang yang mempunyai impuls agresif dalam dirinya
berubah menjadi orang yang ramah dan sangat bersahabat.
Hal ini bukan berarti bahwa semua orang yang
menentang, misalnya peredaran film porno adalah
seorang yang mencoba menutupi impuls seksualnya
yang tinggi. Perbedaan antara perilaku yang diperbuat
merupakan benar-benar dengan yang merupakan reaksi
formasi adalah intensitas dan keekstrimannya.
c.
Proyeksi
Proyeksi adalah mekanisme pertahanan dari individu
yang menganggap suatu impuls yang tidak baik, agresif
dan tidak dapat diterima sebagai bukan miliknya
melainkan milik orang lain. Misalnya seseorang berkata
“Aku tidak benci dia, dialah yang benci padaku”. Pada
proyeksi impuls itu masih dapat bermanifestasi namun
dengan cara yang lebih dapat diterima oleh individu
tersebut.
d.
Regresi
Regresi adalah suatu mekanisme pertahanan saat
individu kembali ke masa periode awal dalam hidupnya
Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 7, Juli 2007
Teori Kecemasan Berdasarkan Psikoanalisis Klasik
yang lebih menyenangkan dan bebas dari frustasi dan
kecemasan yang saat ini dihadapi. Regresi biasanya
berhubungan dengan kembalinya individu ke suatu
tahap perkembangan psikoseksual. Individu kembali ke
masa dia merasa lebih aman dari hidupnya dan dimanifestasikan
oleh perilakunya di saat itu, seperti
kekanak-kanakan dan perilaku dependen.
e.
Rasionalisasi
Rasionalisasi merupakan mekanisme pertahanan yang
melibatkan pemahaman kembali perilaku kita untuk
membuatnya menjadi lebih rasional dan dapat diterima
oleh kita. Kita berusaha memaafkan atau mempertimbangkan
suatu pemikiran atau tindakan yang mengancam
kita dengan meyakinkan diri kita sendiri bahwa ada alasan
yang rasional dibalik pikiran dan tindakan itu. Misalnya
seorang yang dipecat dari pekerjaan mengatakan bahwa
pekerjaannya itu memang tidak terlalu bagus untuknya.
Jika anda sedang bermain tenis dan kalah maka anda
akan menyalahkan raket dengan cara membantingnya
atau melemparnya daripada anda menyalahkan diri anda
sendiri telah bermain buruk. Itulah yang dinamakan
rasionalisasi. Hal ini dilakukan karena dengan menyalahkan
objek atau orang lain akan sedikit mengurangi
ancaman pada individu itu.
f.
Pemindahan
Suatu mekanisme pertahanan dengan cara memindahkan
impuls terhadap objek lain karena objek yang dapat
memuaskan Id tidak tersedia. Misalnya seorang anak
yang kesal dan marah dengan orang tuanya, karena
perasaan takut berhadapan dengan orang tua maka rasa
kesal dan marahnya itu ditimpakan kepada adiknya yang
kecil. Pada mekanisme ini objek pengganti adalah suatu
objek yang menurut individu bukanlah merupakan suatu
ancaman.
g.
Sublimasi
Berbeda dengan displacement yang mengganti objek
untuk memuaskan Id, sublimasi melibatkan perubahan
atau penggantian dari impuls Id itu sendiri. Energi
instingtual dialihkan ke bentuk ekspresi lain, yang secara
sosial bukan hanya diterima namun dipuji. Misalnya
energi seksual diubah menjadi perilaku kreatif yang
artistik.
h.
Isolasi
Isolasi adalah cara kita untuk menghindari perasaan yang
tidak dapat diterima dengan cara melepaskan mereka dari
peristiwa yang seharusnya mereka terikat, merepresikannya
dan bereaksi terhadap peristiwa tersebut tanpa
emosi. Hal ini sering terjadi pada psikoterapi. Pasien
berkeinginan untuk mengatakan kepada terapis tentang
perasaannya namun tidak ingin berkonfrontasi dengan
perasaan yang dilibatkan itu. Pasien kemudian akan
Teori Kecemasan Berdasarkan Psikoanalisis Klasik
menghubungkan perasaan tersebut dengan cara pelepasan
yang tenang walau sebenarnya ada keinginan
untuk mengeksplorasi lebih jauh.
i.
Undoing
Dalam undoing, individu akan melakukan perilaku atau
pikiran ritual dalam upaya untuk mencegah impuls yang
tidak dapat diterima. Misalnya pada pasien dengan
gangguan obsesif kompulsif, melakukan cuci tangan
berulang kali demi melepaskan pikiran-pikiran seksual
yang mengganggu.
j.
Intelektualisasi
Sering bersamaan dengan isolasi; individu mendapatkan
jarak yang lebih jauh dari emosinya dan menutupi hal
tersebut dengan analisis intelektual yang abstrak dari
individu itu sendiri.
Kesimpulan
Teori kecemasan dari Freud merupakan salah satu poin
penting dalam membicarakan psikoanalisis. Teori ini dalam
perjalanannya mengalami beberapa perubahan seperti juga
teori Freud tentang struktur mental individu. Berbagai bentuk
kecemasan telah Freud sebutkan, tetapi pada kenyataannya,
prototipe semua bentuk kecemasan adalah trauma kelahiran.
Saat itulah pertama kalinya individu dihadapkan pada situasi
kecemasan yang sebelumnya tidak pernah dialami saat dalam
kandungan.
Kecemasan merupakan suatu tanda peringatan bahaya
dari luar yang mengancam ego. Individu akan berusaha
mengurangi atau menghilangkan bahaya yang mengancam
tersebut dengan berbagai cara mekanisme pertahanan.
Mekanisme pertahanan tidak selalu bekerja sendiri, terkadang
beberapa mekanisme pertahanan akan bekerja sama dalam
menghadapi kecemasan. Tujuan dari semua mekanisme
pertahanan ini adalah agar individu lepas dari tekanan
sehingga dapat tetap menjalani kehidupannya dengan lebih
baik.
Psikoanalisis Klasik dan
Berbagai Mekanisme Pertahanan
terhadap Kecemasan
Andri*, Yenny Dewi P**
*Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Rumah Sakit Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta
**Departemen Kesehatan Jiwa Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta
Abstrak: Teori kecemasan oleh Freud pertama kali diungkapkan tahun 1890, berawal dari
sebuah pemikiran bahwa kecemasan merupakan libido yang mengendap. Selanjutnya Freud
setuju dengan koleganya Otto Rank bahwa asal mula kecemasan berawal dari trauma masa
lahir. Kecemasan menurut Freud dibagi menjadi tiga yaitu kecemasan realitas, kecemasan
neurosis, dan kecemasan moral. Freud membagi kecemasan neurosis menjadi tiga bagian yang
berbeda yaitu kecemasan yang didapat karena adanya faktor dalam dan luar yang menakutkan,
kecemasan yang terkait dengan objek tertentu yang bermanifestasi seperti fobia, kecemasan
neurotik yang tidak berhubungan dengan faktor-faktor berbahaya dari dalam dan luar.
Mekanisme pertahanan terhadap kecemasan ada beberapa yaitu Represi, Reaksi Formasi,
Proyeksi, Regresi, Rasionalisasi, Pemindahan, Sublimasi, Isolasi, Undoing dan Intelektualisasi
Kata Kunci: teori kecemasan, Freud, mekanisme pertahanan
Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 7, Juli 2007
Teori Kecemasan Berdasarkan Psikoanalisis Klasik
Anxiety Theory Based On Classic Psychoanalitic and Types of
Defense Mechanism To Anxiety
Andri*, Yenny Dewi P**
*Department of Psychiatry Faculty of Medicine University of Indonesia,
Cipto Mangunkusumo General Hospital
**Department of Mental Health, Gatot Subroto Army Central Hospital
Abstract: Anxiety theory was introduced by Freud in 1890. It began with a thought that anxiety
comes from the unrevealed libido. Afterward Freud than agree with his colleague, Otto Rank that
the nature of anxiety begin from early birth traumatic. Freud divided anxiety into three categories;
reality anxiety, neurotic anxiety, and moral anxiety. Then Freud divided again the neurotic anxiety
into three different part; anxiety because of the frightened inside and outside factor, anxiety that
related to specific object that manifested as phobia, and neurotic anxiety that has nothing to do with
the inside and outside factor. There are some defense mechanism to anxiety situation; repression,
reaction formation, projection, regression, rationalization, displacement, sublimation, isolation,
undoing and intellectualization .
Key words: anxiety theory, Freud, defense mechanism
Pendahuluan
Teori Freud tentang kecemasan pertama kali didasari
oleh suatu pemikiran berani yang mengungkapkan analogi
dari kesamaan respon tubuh selama serangan kecemasan
dengan yang terlihat saat berhubungan seksual (palpitasi,
nafas berat). Teori ini dikemukakan sekitar tahun 1894
sebagai penyambung dari teori koitus interuptus yang
sebelumnya telah dikemukakan.1 Sebelumnya pada tahun
1890, Freud melalui observasi klinisnya mengatakan bahwa
kecemasan adalah hasil dari “libido yang mengendap”. Freud
ingin mengatakan bahwa peningkatan fisiologis dari tekanan
seksual mengarah kepada peningkatan libido yang
merupakan representasi mental dari peristiwa fisiologis
tersebut. Pelepasan yang normal dari tekanan seksual ini
menurut pandangan Freud adalah melalui hubungan seksual.
Sedangkan banyak praktek seksual yang menurut Freud tidak
normal seperti koitus interuptus dan abstinensi, yang
akhirnya menahan pelepasan tekanan itu dan berakhir pada
neurosis sebenarnya (actual neurosis). Beberapa kondisi
peningkatan kecemasan yang berhubungan dengan
penahanan pelepasan libido termasuk neurasthenia,
hipokondriasis dan kecemasan neurosis. 2
Asal Mula Kecemasan
Freud melihat kecemasan sebagai bagian penting dari
sistem kepribadian, hal yang merupakan suatu landasan dan
pusat dari perkembangan perilaku neurosis dan psikosis.
Freud mengatakan bahwa prototipe dari semua anxietas
adalah trauma masa lahir (suatu pendapat yang pertama kali
dikemukakan oleh kolega Otto Rank).
Janin saat dalam masa kandungan merasa dalam dunia
yang nyaman, stabil dan aman dengan setiap kebutuhan
dapat dipuaskan tanpa ada penundaan. Tiba-tiba saat lahir
individu dihadapkan pada lingkungan yang bermusuhan .
Individu kemudian harus beradaptasi dengan realitas, yaitu
kebutuhan instinktual tidak selalu dapat ditemukan. Sistem
saraf bayi yang baru lahir masih mentah dan belum tersiapkan,
tiba-tiba dibombardir dengan stimulus sensorik yang keras
dan terus-menerus.
Trauma lahir, dengan peningkatan kecemasan dan
ketakutan bahwa Id (aspek dari kepribadian yang
berhubungan dengan dorongan insting yang merupakan
sumber energi psikis yang bekerja berdasarkan prinsip
kepuasan/pleasure principle dan selalu ingin dipuaskan)
tidak dapat terpuaskan merupakan pengalaman pertama
individu dengan ketakutan dan kecemasan. Dari pengalaman
ini diciptakan pola teladan dari reaksi dan tingkat perasaan
yang akan terjadi kapan saja pada individu yang ditunjukkan
bila berhadapan dengan bahaya di masa depan. Ketika
individu tidak mampu melakukan coping terhadap anxietasnya
pada waktu dalam keadaan bahaya atau berlebihan, maka
kecemasan itu disebut sebagai traumatik. Apa yang dimaksud
Freud dengan hal ini adalah individu, tak dihitung berapa
usianya, mundur pada suatu tahapan tak berdaya sama sekali,
Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 7, Juli 2007
Teori Kecemasan Berdasarkan Psikoanalisis Klasik
seperti keadaan pada janin. Pada kehidupan dewasa,
ketidakberdayaan infantil diberlakukan kembali, untuk
beberapa tingkatan, dimana ego terancam.3
Kecemasan Menurut Freud
Freud membagi kecemasan menjadi tiga, yaitu:
a.
Kecemasan Realitas atau Objektif (Reality or Objective
Anxiety)
Suatu kecemasan yang bersumber dari adanya ketakutan
terhadap bahaya yang mengancam di dunia nyata.
Kecemasan seperti ini misalnya ketakutan terhadap
kebakaran, angin tornado, gempa bumi, atau binatang
buas. Kecemasan ini menuntun kita untuk berperilaku
bagaimana menghadapi bahaya. Tidak jarang ketakutan
yang bersumber pada realitas ini menjadi ekstrim.
Seseorang dapat menjadi sangat takut untuk keluar
rumah karena takut terjadi kecelakaan pada dirinya atau
takut menyalakan korek api karena takut terjadi
kebakaran.3,4
b.
Kecemasan Neurosis (Neurotic Anxiety)
Kecemasan ini mempunyai dasar pada masa kecil, pada
konflik antara pemuasan instingtual dan realitas. Pada
masa kecil, terkadang beberapa kali seorang anak
mengalami hukuman dari orang tua akibat pemenuhan
kebutuhan id yang implusif Terutama sekali yang
berhubungan dengan pemenuhan insting seksual atau
agresif. Anak biasanya dihukum karena secara berlebihan
mengekspresikan impuls seksual atau agresifnya itu.
Kecemasan atau ketakutan untuk itu berkembang karena
adanya harapan untuk memuaskan impuls Id tertentu.
Kecemasan neurotik yang muncul adalah ketakutan akan
terkena hukuman karena memperlihatkan perilaku
impulsif yang didominasi oleh Id. Hal yang perlu
diperhatikan adalah ketakutan terjadi bukan karena
ketakutan terhadap insting tersebut tapi merupakan
ketakutan atas apa yang akan terjadi bila insting tersebut
dipuaskan. Konflik yang terjadi adalah di antara Id dan
Ego yang kita ketahui mempunyai dasar dalam realitas.3,4
c.
Kecemasan Moral (Moral Anxiety)
Kecemasan ini merupakan hasil dari konflik antara Id
dan superego. Secara dasar merupakan ketakutan akan
suara hati individu sendiri. Ketika individu termotivasi
untuk mengekspresikan impuls instingtual yang
berlawanan dengan nilai moral yang termaksud dalam
superego individu itu maka ia akan merasa malu atau
bersalah. Pada kehidupan sehari-hari ia akan menemukan
dirinya sebagai “conscience stricken”. Kecemasan moral
menjelaskan bagaimana berkembangnya superego.
Biasanya individu dengan kata hati yang kuat dan puritan
akan mengalami konfllik yang lebih hebat daripada
individu yang mempunyai kondisi toleransi moral yang
Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 7, Juli 2007
lebih longgar. Seperti kecemasan neurosis, kecemasan
moral juga mempunyai dasar dalam kehidupan nyata.
Anak-anak akan dihukum bila melanggar aturan yang
ditetapkan orang tua mereka. Orang dewasa juga akan
mendapatkan hukuman jika melanggar norma yang ada
di masyarakat. Rasa malu dan perasaan bersalah
menyertai kecemasan moral. Dapat dikatakan bahwa yang
menyebabkan kecemasan adalah kata hati individu itu
sendiri. Freud mengatakan bahwa superego dapat
memberikan balasan yang setimpal karena pelanggaran
terhadap aturan moral.3,4
Apapun tipenya, kecemasan merupakan suatu tanda
peringatan kepada individu. Hal ini menyebabkan tekanan
pada individu dan menjadi dorongan pada individu termotivasi
untuk memuaskan. Tekanan ini harus dikurangi.
Kecemasan memberikan peringatan kepada individu
bahwa ego sedang dalam ancaman dan oleh karena itu
apabila tidak ada tindakan maka ego akan terbuang secara
keseluruhan. Ada berbagai cara ego melindungi dan
mempertahankan dirinya. Individu akan mencoba lari dari
situasi yang mengancam serta berusaha untuk membatasi
kebutuhan impuls yang merupakan sumber bahaya.
Individu juga dapat mengikuti kata hatinya. Atau jika
tidak ada teknik rasional yang bekerja, individu dapat
memakai mekanisme pertahanan (defence mechanism)
yang non-rasional untuk mempertahankan ego.
Kecemasan Neurosis
Freud membagi kecemasan neurosis (neorotic anxiety)
menjadi tiga bagian yang berbeda seperti di bawah ini:5
a. kecemasan yang didapat karena adanya faktor dalam dan
luar yang menakutkan
b. kecemasan yang terkait dengan objek tertentu yang
bermanifestasi seperti fobia
c. kecemasan neurotik yang tidak berhubungan dengan
faktor-faktor berbahaya dari dalam dan luar.
Kecemasan yang bermanifestasi dalam gangguan panik
merupakan bagian dari kelompok yang ketiga, terutama jika
penderita pada serangan pertama tidak mampu menjelaskan
hubungan antara pengalaman itu dengan adanya bahaya yang
mampu dikenali. Gejala fisiologis yang timbul pada saat
serangan panik tersebut seperti palpitasi, dispnea, adanya
rasa takut mati, dan adanya kecemasan akan terulangnya
kejadian tersebut. Perasaan takut gila juga sering terdapat
pada serangan panik karena ketidakmampuan penderita
mengkontrol pikirannya saat itu. Saat serangan panik timbul
pertama kali misalnya di tempat umum saat makan di restoran,
mengendarai bus atau berjalan di pasar, maka akan ada rasa
ketakutan yang berupa fobia di mana penderita merasakan
ketakutan jika serangan itu terjadi lagi dalam keadaan
demikian sehingga dia berusaha untuk menghindari keadaan
tersebut. Dalam klinik kita kenal sebagai agorafobia. Ada
Teori Kecemasan Berdasarkan Psikoanalisis Klasik
perbedaan yang mencolok antara ketakutan pada situasi
tertentu (fobia khas) dengan gangguan panik, yaitu bahwa
fobia khas biasanya berhubungan dengan situasi tertentu
yang penderita ketahui dan ada kecenderungan untuk
menghindari situasi tertentu itu. Sedang pada serangan panik
terkadang penderita tidak mengetahui keadaan atau situasi
tertentu yang memicu timbulnya serangan panik.5
Menurut klasifikasi Freud fobia khas yang disebut
sebagai psychoneurosis dan kecemasan neurosis yang
disebut neurosis yang sebenarnya (actual neurosis) berbeda.
Hal ini dikarenakan bahwa ide dasar pada psiko-neurosis
ditandai oleh tanda kecemasan yang mengingatkan
kepada situasi bahaya yang pernah ditemui sebelumnya,
sedangkan kecemasan neurosis dan segala bentuk neurosis
yang sesungguhnya merupakan kecemasan yang berhubungan
dengan pengalaman sekarang dari ketidak-puasan
libido. Pada kecemasan jenis ini energi libido atau dorongan
seksual tidak terpuaskan dan terganggu pada saat pelepasannya.
Salah satu yang membedakan dengan fobia atau
histeria adalah bahwa gangguan ini berasal dari perkembangan
seksual infantil. Menurut Freud, munculnya
kecemasan pada kecemasan neurosis bukanlah berasal dari
sebuah konflik akan tetapi berasal dari konsepsi asli dengan
tidak dilepaskannya libido yang kemudian berubah menjadi
kecemasan dalam bentuknya yang beracun. Hal ini dapat
menjelaskan mengapa pada kecemasan neurosis akan
mencapai sebuah tahapan panik sedangkan pada fobia tetap
merupakan suatu sinyal kewaspadaan yang membuat
penderita menghindari bahaya atau situasi yang dari
pengalamannya dapat menyebabkan suatu kecemasan. Akan
tetapi penjelasan di atas tidak dapat sepenuhnya diambil
sebagai suatu pegangan yang mutlak. Kenyataan bahwa
pada penderita fobia yang mengalami serangan panik jika
tidak mampu menghindari atau terjebak dalam suasana yang
menakutkan (fobic situation) membuat kita dapat mengatakan
bahwa pada dasarnya kecemasan pada fobia dan kecemasan
neurosis berasal dari sumber yang sama. Pada kecemasan
neurosis manifestasi kecemasan terlihat lebih nyata daripada
fobia karena mekanisme pertahanan pada kecemasan neurosis
bermula sejak mula dan tidak sempurna terbentuk seperti
pada pasien fobia. Atau mekanisme pertahanannya tidak siap
dimobilisasi segera untuk digunakan oleh the self sebagai
imbas dari pikiran-pikiran atau fantasi nirsadar atau prasadar.
Tanda kecemasan yang akan mengaktifkan mekanisme pertahanan
tidak terjadi, sehingga kecemasan akan mengambil
bentuk primer dari kecemasan yang berujung pada serangan
panik.5
Freud mengatakan bahwa ada empat bentuk kecemasan
yang berhubungan dengan fase perkembangan anak. Bentuk
yang paling awal muncul adalah kecemasan terhadap
disintegrasi atau penghancuran diri saat bayi baru pertama
kali datang ke dunia ini. Kecemasan berikutnya adalah
kecemasan perpisahan yang dirasakan oleh bayi karena
perpisahan dengan ibunya. Ketiga adalah kecemasan yang
berhubungan dengan fase psikoseksual menurut Freud,
ketika anak perempuan mempunyai kecemasan akan
hilangnya figur yang bermakna yaitu ibunya dan anak lakilaki
mempunyai kecemasan mengalami pemotongan penisnya
yang dilakukan oleh figur berkuasa yaitu ayahnya sendiri
atau sering disebut castration anxiety. Kecemasan terakhir
yaitu kecemasan superego yaitu ketika figur orangtua sudah
mulai terbentuk sehingga anak mempunyai kecemasan bahwa
suatu saat orang tua dapat menghentikan cintanya kepada
dirinya atau memarahi dirinya.2 Walau ide tentang adanya
perpisahan atau ancaman perpisahan dengan ibu cocok
dengan adanya suatu peringatan terhadap the self akibat
perpisahan tersebut, namun dirasakan tidak cocok untuk
mengerti kebanyakan dari gejala serangan panik yaitu
disintegrasi dari the self dan pemusnahan diri.5
Freud sudah berusaha keras untuk mencari bentuk
prototipe yang secara umum cocok untuk semua bentuk dari
kecemasan. Dia juga mengatakan bahwa trauma lahir yang
diperkenalkan oleh Rank merupakan pengalaman paling dasar
dari kecemasan.
Perkembangan psikoanalisis sekarang ini terutama pada
teori narsisistik dan diri telah banyak memberikan pengetahuan
yang lebih terhadap pemahaman dari asal muasal
kecemasan/panik. Pada teori psikologi diri (self psychology)
yang diperkenalkan oleh Kohut ada penambahan dari bentuk
kecemasan yang diperkenalkan Freud. Dua tambahan itu
adalah kecemasan akan disintegrasi diri dan kecemasan akan
pemusnahan diri. Ada kemiripan antara bentuk kecemasan
ini dengan ketakutan menjadi gila dan ketakutan akan
kematian pada penderita serangan panik. Namun hal ini
berbeda dengan pengalaman nyata disintegrasi diri dan
pemusnahan diri pada pengalaman prepsikotik pada pasien
dengan gangguan kepribadian narsisistik yang berat.
Perbedaan lain adalah bahwa regresi pada pasien panik lebih
terbatas daripada pasien dengan gangguan kepribadian
narsisistik. Struktur ego pada individu dengan kecemasan
panik lebih kuat daripada individu dengan gangguan
kepribadian narsisistik.5
Mekanisme Pertahanan terhadap Kecemasan
Kecemasan berfungsi sebagai tanda adanya bahaya
yang akan terjadi, suatu ancaman terhadap ego yang harus
dihindari atau dilawan. Dalam hal ini ego harus mengurangi
konflik antara kemauan Id dan Superego. Konflik ini akan
selalu ada dalam kehidupan manusia karena menurut Freud,
insting akan selalu mencari pemuasan sedangkan lingkungan
sosial dan moral membatasi pemuasan tersebut. Sehingga
menurut Freud suatu pertahanan akan selalu beroperasi
secara luas dalam segi kehidupan manusia. Layaknya semua
perilaku dimotivasi oleh insting, begitu juga semua perilaku
mempunyai pertahanan secara alami, dalam hal untuk melawan
kecemasan.3
Freud membuat postulat tentang beberapa mekanisme
pertahanan namun mencatat bahwa jarang sekali individu
Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 7, Juli 2007
menggunakan hanya satu pertahanan saja. Biasanya individu
akan menggunakan beberapa mekanisme pertahanan pada
satu saat yang bersamaan. Ada dua karakteristik penting
dari mekanisme pertahanan. Pertama adalah bahwa mereka
merupakan bentuk penolakan atau gangguan terhadap
realitas. Kedua adalah bahwa mekanisme pertahanan
berlangsung tanpa disadari. Kita sebenarnya berbohong
pada diri kita sendiri namun tidak menyadari telah berlaku
demikian. Tentu saja jika kita mengetahui bahwa kita berbohong
maka mekanisme pertahanan tidak akan efektif. Jika
mekanisme pertahanan bekerja dengan baik, pertahanan akan
menjaga segala ancaman tetap berada di luar kesadaran kita.
Sebagai hasilnya kita tidak mengetahui kebenaran tentang
diri kita sendiri. Kita telah terpecah oleh gambaran keinginan,
ketakutan, kepemilikan dan segala macam lainnya.3,6,7
Beberapa mekanisme pertahanan yang digunakan untuk
melawan kecemasan antara lain adalah:3,6,7
a.
Represi
Dalam terminologi Freud, represi adalah pelepasan tanpa
sengaja sesuatu dari kesadaran (conscious). Pada
dasarnya merupakan upaya penolakan secara tidak sadar
terhadap sesuatu yang membuat tidak nyaman atau
menyakitkan. Konsep tentang represi merupakan dasar
dari sistem kepribadian Freud dan berhubungan dengan
semua perilaku neurosis.
b.
Reaksi Formasi
Reaksi formasi adalah bagaimana mengubah suatu impuls
yang mengancam dan tidak sesuai serta tidak dapat
diterima norma sosial diubah menjadi suatu bentuk yang
lebih dapat diterima. Misalnya seorang yang mempunyai
impuls seksual yang tinggi menjadi seorang yang
dengan gigih menentang pornografi. Lain lagi misalnya
seseorang yang mempunyai impuls agresif dalam dirinya
berubah menjadi orang yang ramah dan sangat bersahabat.
Hal ini bukan berarti bahwa semua orang yang
menentang, misalnya peredaran film porno adalah
seorang yang mencoba menutupi impuls seksualnya
yang tinggi. Perbedaan antara perilaku yang diperbuat
merupakan benar-benar dengan yang merupakan reaksi
formasi adalah intensitas dan keekstrimannya.
c.
Proyeksi
Proyeksi adalah mekanisme pertahanan dari individu
yang menganggap suatu impuls yang tidak baik, agresif
dan tidak dapat diterima sebagai bukan miliknya
melainkan milik orang lain. Misalnya seseorang berkata
“Aku tidak benci dia, dialah yang benci padaku”. Pada
proyeksi impuls itu masih dapat bermanifestasi namun
dengan cara yang lebih dapat diterima oleh individu
tersebut.
d.
Regresi
Regresi adalah suatu mekanisme pertahanan saat
individu kembali ke masa periode awal dalam hidupnya
Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 7, Juli 2007
Teori Kecemasan Berdasarkan Psikoanalisis Klasik
yang lebih menyenangkan dan bebas dari frustasi dan
kecemasan yang saat ini dihadapi. Regresi biasanya
berhubungan dengan kembalinya individu ke suatu
tahap perkembangan psikoseksual. Individu kembali ke
masa dia merasa lebih aman dari hidupnya dan dimanifestasikan
oleh perilakunya di saat itu, seperti
kekanak-kanakan dan perilaku dependen.
e.
Rasionalisasi
Rasionalisasi merupakan mekanisme pertahanan yang
melibatkan pemahaman kembali perilaku kita untuk
membuatnya menjadi lebih rasional dan dapat diterima
oleh kita. Kita berusaha memaafkan atau mempertimbangkan
suatu pemikiran atau tindakan yang mengancam
kita dengan meyakinkan diri kita sendiri bahwa ada alasan
yang rasional dibalik pikiran dan tindakan itu. Misalnya
seorang yang dipecat dari pekerjaan mengatakan bahwa
pekerjaannya itu memang tidak terlalu bagus untuknya.
Jika anda sedang bermain tenis dan kalah maka anda
akan menyalahkan raket dengan cara membantingnya
atau melemparnya daripada anda menyalahkan diri anda
sendiri telah bermain buruk. Itulah yang dinamakan
rasionalisasi. Hal ini dilakukan karena dengan menyalahkan
objek atau orang lain akan sedikit mengurangi
ancaman pada individu itu.
f.
Pemindahan
Suatu mekanisme pertahanan dengan cara memindahkan
impuls terhadap objek lain karena objek yang dapat
memuaskan Id tidak tersedia. Misalnya seorang anak
yang kesal dan marah dengan orang tuanya, karena
perasaan takut berhadapan dengan orang tua maka rasa
kesal dan marahnya itu ditimpakan kepada adiknya yang
kecil. Pada mekanisme ini objek pengganti adalah suatu
objek yang menurut individu bukanlah merupakan suatu
ancaman.
g.
Sublimasi
Berbeda dengan displacement yang mengganti objek
untuk memuaskan Id, sublimasi melibatkan perubahan
atau penggantian dari impuls Id itu sendiri. Energi
instingtual dialihkan ke bentuk ekspresi lain, yang secara
sosial bukan hanya diterima namun dipuji. Misalnya
energi seksual diubah menjadi perilaku kreatif yang
artistik.
h.
Isolasi
Isolasi adalah cara kita untuk menghindari perasaan yang
tidak dapat diterima dengan cara melepaskan mereka dari
peristiwa yang seharusnya mereka terikat, merepresikannya
dan bereaksi terhadap peristiwa tersebut tanpa
emosi. Hal ini sering terjadi pada psikoterapi. Pasien
berkeinginan untuk mengatakan kepada terapis tentang
perasaannya namun tidak ingin berkonfrontasi dengan
perasaan yang dilibatkan itu. Pasien kemudian akan
Teori Kecemasan Berdasarkan Psikoanalisis Klasik
menghubungkan perasaan tersebut dengan cara pelepasan
yang tenang walau sebenarnya ada keinginan
untuk mengeksplorasi lebih jauh.
i.
Undoing
Dalam undoing, individu akan melakukan perilaku atau
pikiran ritual dalam upaya untuk mencegah impuls yang
tidak dapat diterima. Misalnya pada pasien dengan
gangguan obsesif kompulsif, melakukan cuci tangan
berulang kali demi melepaskan pikiran-pikiran seksual
yang mengganggu.
j.
Intelektualisasi
Sering bersamaan dengan isolasi; individu mendapatkan
jarak yang lebih jauh dari emosinya dan menutupi hal
tersebut dengan analisis intelektual yang abstrak dari
individu itu sendiri.
Kesimpulan
Teori kecemasan dari Freud merupakan salah satu poin
penting dalam membicarakan psikoanalisis. Teori ini dalam
perjalanannya mengalami beberapa perubahan seperti juga
teori Freud tentang struktur mental individu. Berbagai bentuk
kecemasan telah Freud sebutkan, tetapi pada kenyataannya,
prototipe semua bentuk kecemasan adalah trauma kelahiran.
Saat itulah pertama kalinya individu dihadapkan pada situasi
kecemasan yang sebelumnya tidak pernah dialami saat dalam
kandungan.
Kecemasan merupakan suatu tanda peringatan bahaya
dari luar yang mengancam ego. Individu akan berusaha
mengurangi atau menghilangkan bahaya yang mengancam
tersebut dengan berbagai cara mekanisme pertahanan.
Mekanisme pertahanan tidak selalu bekerja sendiri, terkadang
beberapa mekanisme pertahanan akan bekerja sama dalam
menghadapi kecemasan. Tujuan dari semua mekanisme
pertahanan ini adalah agar individu lepas dari tekanan
sehingga dapat tetap menjalani kehidupannya dengan lebih
baik.
Tips-Tips Mendidik Anak Sejak Dini
Tips-Tips Mendidik Anak Sejak Dini
Dari hasil pengamatan,wawancara dengan rekan kerja dan berdasarkan pengalaman sendiri bahwa, orang tua sangat besar peranya dalam mendidik anak, terutama pada anak-anak sejak kecil. Mendidik anak sejak dini sangat menentukan bagaimana perkembangan kedewasaan anak. Sebagai orang tua apapun tingkah lakunya akan dilihat oleh anak dan dijadikan contoh perilaku anak,baik yang baik maupun yang buruk sekalipun. Karena pada dasarnya anak berumur dibawah lima tahun rasa ingin tahu dan belajarnya sangat tinggi. Daya ingat bagi anak dibawah lima tahun sangat tajam dan sebagai orang tua sudah layaknya memberikan cotoh dalam kehidupan sehari-hari pada kegiatan-kegiatan yang positif. Sebagai contoh bila orang tua suka membaca, atau suka menulis atau suka berolah raga atau suka menonton film-film barat dan sebagainya,si anakpun cenderung akan mencontohnya. Karena itu berbanggalah orang tua bila bisa melakukan kegiatan-kegiatan positif seperti tersebut diatas sebagai contoh, nantinya akan menanamkan jiwa pada diri anak untuk suka menulis,menggambar,membaca dan lain-lain.
Berikut ini adalah beberapa tips mendidik anak sejak usia dini:
1.Berikan contoh dengan mengajaknya ikut serta pada kegiatan sehari-hari yang positif.
-Membersih ruangan rumah,Biasanya anak-anak yang suka bermain-main dengan mainanya akan membuat situasi berantakan di ruangan rumah, ajarkan pada anak untuk bisa membersihkan dan merapikan sendiri setelah selesai bermain.
-Membaca buku-buku bacaan. Buku-buku bacaan sebagai altenatif guru yang baik. Buku sebagai sumber ilmu yang tiada batas,banyak jenis buku yang bisa dibaca dan mebahas berbagai tema dan masalah.
-Membaca Majalah atau Koran,dengan membaca koran dan majalah akan menambah wawasan pada orang tua sehingga bisa mempunyai wawasan yang lebih luas dan bisa diajarkan.
-Membaca Kitab Suci.Dengan mendengarkan acaan kitab suci biasanya sianak akan memiliki spiritual yang lebih baik bila dewasa kelak.
-Menulis,Anak akan memperhatikan bila orang tua sedang menulis dan akan menirunya dengan coret-coret, biasanya didinding namun sebaiknya dibuku-buku yang telah disediakan orang tua,sehingga termasuk juga mengajarkan keapian dan kebersihan.
-Bagi keluarga yang punya halaman berumput, biasanya setiap bulan sekali rumput akan jadi panjang dan tidak beraturan, maka anak bisa diajari juga bagaimana merapikan halaman.
-Mencuci kendaraan,baik motor maupun mobil bila tidak terlalu kotor bisa dicuci sendiri dirumah, sekaligus mengajarkan anak bagaimana memperlakukan kendaraan.
-Mengajak kebengkel, biasanya anak akan senang bila diajak ikut serta kebengkel,dan biasanya akan menambah ide bagi si anak untuk lebih mengenal jenis kendaraan bermotor,bisa juga nanti menjadi idola sianak untuk berwiraswasta dengan membuka bengkel dan lain-lain.
2.Berikan contoh untuk mentaati waktu, Yaitu waktu bermain, waktu belajar dan waktu tidur. Biasanya anak dibawah lima tahun memerlukan waktu tidur lebih banyak dibandingkan dengan orang dewasa.Sehingga sebagai orang tua terutama Ibu harus bisa mengajarkan waktu-waktu kapan harus bermain dan kapan harus beristirahat. Hal ini dilakukan untuk kesehatan anak itu sendiri.
3.Menghindarkan anak-anak dari hal-hal yang bersifat buruk:
-Bertengkar didepan anak-anak, karena dengan bertengkar didepan anak-anak secara otomatis akan memberikan contoh kekerasan dalam keluarga didepan anak, sehingga bisa menimbulkan trauma psikis pada si anak itu sendiri.
-Membiarkan anak tidak disiplin, kadang didikan keras bisa membuat disiplin pada sianak,dengan dimanja anak tidak bisa mandii dan bertanggung jawab.
-Memukul anak secara langsung didepan anak-anak yang lain, akan mengakibatkan hilangnya rasa kepercayaan diri si anak.
-Bila Ayah sedang keras pada anak, dalam arti tujuan mendidik si ibu tidak boleh membela si anak, sebab bila dibela si anak tidak akan jera bila melakukan kesalahan. Sebaliknya bila Si Ibu sedang keras pada anak dalam arti mendidik,Sang ayah pun tidak boleh membela kesalahan pada anak,. Sehingga terjalin kerjasama mendidik anak yang baik dan seimbang.
-Jangan berikan tontonan baik berupa film-film kekerasan atau Sinotron drama yang bersifat cengeng dan mendramatisi, untuk menghindari anak dari sifat-sifat yang kurang baik dari dampak yang ditontonya.
4. Sisakan waktu bersama Anak-anak. Ditengah-tengah kesibukan sebagai orang tuan sisakan waktu untuk bermain bersama anak-anak,sehingga timbul rasa kasih sayang sekaligus pembelajaran pada anak.
5. Usia 7 tahun, bagi yang Moslem bila sampai belum Sholat ajarkan dengan sedikit keras, bisa dengan cambukan untuk mengingatkan anak agar segera sembahyang.
6. Diatas usia 7 tahun Anak akan bisa diberikan tangung jawab yang lebih,sehingga tidak terlalu merepotkan orang tua.
Semoga berhasil
Good Luck!
Dari hasil pengamatan,wawancara dengan rekan kerja dan berdasarkan pengalaman sendiri bahwa, orang tua sangat besar peranya dalam mendidik anak, terutama pada anak-anak sejak kecil. Mendidik anak sejak dini sangat menentukan bagaimana perkembangan kedewasaan anak. Sebagai orang tua apapun tingkah lakunya akan dilihat oleh anak dan dijadikan contoh perilaku anak,baik yang baik maupun yang buruk sekalipun. Karena pada dasarnya anak berumur dibawah lima tahun rasa ingin tahu dan belajarnya sangat tinggi. Daya ingat bagi anak dibawah lima tahun sangat tajam dan sebagai orang tua sudah layaknya memberikan cotoh dalam kehidupan sehari-hari pada kegiatan-kegiatan yang positif. Sebagai contoh bila orang tua suka membaca, atau suka menulis atau suka berolah raga atau suka menonton film-film barat dan sebagainya,si anakpun cenderung akan mencontohnya. Karena itu berbanggalah orang tua bila bisa melakukan kegiatan-kegiatan positif seperti tersebut diatas sebagai contoh, nantinya akan menanamkan jiwa pada diri anak untuk suka menulis,menggambar,membaca dan lain-lain.
Berikut ini adalah beberapa tips mendidik anak sejak usia dini:
1.Berikan contoh dengan mengajaknya ikut serta pada kegiatan sehari-hari yang positif.
-Membersih ruangan rumah,Biasanya anak-anak yang suka bermain-main dengan mainanya akan membuat situasi berantakan di ruangan rumah, ajarkan pada anak untuk bisa membersihkan dan merapikan sendiri setelah selesai bermain.
-Membaca buku-buku bacaan. Buku-buku bacaan sebagai altenatif guru yang baik. Buku sebagai sumber ilmu yang tiada batas,banyak jenis buku yang bisa dibaca dan mebahas berbagai tema dan masalah.
-Membaca Majalah atau Koran,dengan membaca koran dan majalah akan menambah wawasan pada orang tua sehingga bisa mempunyai wawasan yang lebih luas dan bisa diajarkan.
-Membaca Kitab Suci.Dengan mendengarkan acaan kitab suci biasanya sianak akan memiliki spiritual yang lebih baik bila dewasa kelak.
-Menulis,Anak akan memperhatikan bila orang tua sedang menulis dan akan menirunya dengan coret-coret, biasanya didinding namun sebaiknya dibuku-buku yang telah disediakan orang tua,sehingga termasuk juga mengajarkan keapian dan kebersihan.
-Bagi keluarga yang punya halaman berumput, biasanya setiap bulan sekali rumput akan jadi panjang dan tidak beraturan, maka anak bisa diajari juga bagaimana merapikan halaman.
-Mencuci kendaraan,baik motor maupun mobil bila tidak terlalu kotor bisa dicuci sendiri dirumah, sekaligus mengajarkan anak bagaimana memperlakukan kendaraan.
-Mengajak kebengkel, biasanya anak akan senang bila diajak ikut serta kebengkel,dan biasanya akan menambah ide bagi si anak untuk lebih mengenal jenis kendaraan bermotor,bisa juga nanti menjadi idola sianak untuk berwiraswasta dengan membuka bengkel dan lain-lain.
2.Berikan contoh untuk mentaati waktu, Yaitu waktu bermain, waktu belajar dan waktu tidur. Biasanya anak dibawah lima tahun memerlukan waktu tidur lebih banyak dibandingkan dengan orang dewasa.Sehingga sebagai orang tua terutama Ibu harus bisa mengajarkan waktu-waktu kapan harus bermain dan kapan harus beristirahat. Hal ini dilakukan untuk kesehatan anak itu sendiri.
3.Menghindarkan anak-anak dari hal-hal yang bersifat buruk:
-Bertengkar didepan anak-anak, karena dengan bertengkar didepan anak-anak secara otomatis akan memberikan contoh kekerasan dalam keluarga didepan anak, sehingga bisa menimbulkan trauma psikis pada si anak itu sendiri.
-Membiarkan anak tidak disiplin, kadang didikan keras bisa membuat disiplin pada sianak,dengan dimanja anak tidak bisa mandii dan bertanggung jawab.
-Memukul anak secara langsung didepan anak-anak yang lain, akan mengakibatkan hilangnya rasa kepercayaan diri si anak.
-Bila Ayah sedang keras pada anak, dalam arti tujuan mendidik si ibu tidak boleh membela si anak, sebab bila dibela si anak tidak akan jera bila melakukan kesalahan. Sebaliknya bila Si Ibu sedang keras pada anak dalam arti mendidik,Sang ayah pun tidak boleh membela kesalahan pada anak,. Sehingga terjalin kerjasama mendidik anak yang baik dan seimbang.
-Jangan berikan tontonan baik berupa film-film kekerasan atau Sinotron drama yang bersifat cengeng dan mendramatisi, untuk menghindari anak dari sifat-sifat yang kurang baik dari dampak yang ditontonya.
4. Sisakan waktu bersama Anak-anak. Ditengah-tengah kesibukan sebagai orang tuan sisakan waktu untuk bermain bersama anak-anak,sehingga timbul rasa kasih sayang sekaligus pembelajaran pada anak.
5. Usia 7 tahun, bagi yang Moslem bila sampai belum Sholat ajarkan dengan sedikit keras, bisa dengan cambukan untuk mengingatkan anak agar segera sembahyang.
6. Diatas usia 7 tahun Anak akan bisa diberikan tangung jawab yang lebih,sehingga tidak terlalu merepotkan orang tua.
Semoga berhasil
Good Luck!
Kepribadian Seseorang Menurut Urutan Kelahiran
Salah satu psikolog beraliran neo-freudian, Alfred Adler, melakukan penelitian dan mendalilkan pengaruh urutan anak terhadap kepribadian.
Ia mengamati, anak-anak sesuai urutan kelahirannya dalam keluarga memegang posisi kekuasaan yang berbeda. Pencarian identitas dan perhatian dipengaruhi oleh posisi urutannya. Perbedaan lingkungan yang hadir pada anak pertama, tengah, dan bungsu juga bisa membawa mereka pada kepribadian yang berbeda.
Dalam dalilnya, seperti dikutip dari forum diskusi psikologi di sebuah situs psikologi, disebutkan bahwa dalam pandangan Adler semua anak berusaha menjadi superior dan berjuang demi mendapat perhatian,serta kasih sayang orangtuanya. Mereka umumnya berkompetisi untuk menarik perhatian. Kondisi ini membentuk kepribadian mereka berbeda dan mencerminkan usaha mencari perhatian.
Disebutkan Adler, setiap anak lahir dalam tahapan berbeda. Sebagai contoh, anak pertama lahir dalam keluarga kecil, sehingga ía menerima banyak perhatian. Lalu anak kedua lahir dalam keluarga yang sudah terdapat anak yang lebih tua. Pada tahap ini, anak pertama umumnya lebih vokal dalam memberitahu adiknya atas apa yang harus dikerjakan serta bagaimana mengerjakannya.
Di sisi lain, anak kedua cenderung mengamati anak pertama. Ia merasa harus berkompetisi untuk mendapat perhatian dan kasih sayang. Anak kedua menemukan jalan yang berlainan untuk menjadi pusat perhatian. Mereka cenderung memilih jenis olahraga, hobi, dan areal yang berbeda dalam mencapai sesuatu. Sama halnya dengan ciri kepribadian mereka yang berbeda.
Anak terakhir biasanya mempunyai tantangan lebih sulit lagi. Terlebih pada masa ini, keluarga sudah dipenuhi oleh anak yang jumlahnya tidak satu, dengan usia lebih tua pula. Anak bungsu cenderung tidak sekuat yang dilihat. Mereka lebih bébas membentuk kepribadiannya, dan tidak dituntut menjadi high achiever.
Mereka tidak mendapat tekanan kuat dari orangtua untuk mencapai sesuatu lebih tinggi. Sebaliknya, mereka mendapat tekanan untuk tetap menjadi ‘bayi” atau anak kecil. Dengan begitu mereka tidak bisa tumbuh dengan cepat, walaupun menurut Adler, anak bungsu lebih santai dan lebih bebas.
Urutan anak dalam keluarga sangat kompleks. Faktor seperti usia orangtua, urutan anak serta jenis kelamin saudara, agama, dan keyakinan budaya serta variabel penting lainnya juga berperan dalam membuat tahapan atas sesuatu yang dipelajari anak.
Ciri Anak Berdasarkan Urutan Kelahiran
Menurut Roslina Verauli, MPsi., karakteristik anak bisa dilihat berdasarkan urutan kelahiran seperti yang disebutkan bapak psikologi individual, Alfred Adler.
Sulung
* Kerap terbebani dengan harapan atau keinginan orangtua. Anak pertama sangat penting bagi ego orangtua. Itu sebabnya, si sulung didorong untuk mencapai standar sangat tinggi sebagai representasi orangtua.
* Cenderung tertekan.
* Senang menjadi pusat perhatian. Perkembangan kepribadiannya lebih optimal saat ia memperoleh perhatian.
* Orangtua cenderung lebih memperhatikan dalam mendidik anak pertama.
* Anak pertama biasanya seorang high achiever (memiliki keinginan berprestasi tinggi).
Saat adik lahir, ia mempunyai tempat kehormatan bagi adik. Meski begitu, saat pusat perhatiannya terganggu oleh adik, ia bisa iri dan tidak aman.
* Cenderung diberi tanggung jawab oleh orangtua untuk menjaga adiknya.
* Belajar bertanggung jawab dan mandiri melalui kegiatan sehari-hari.
* Dapat diandalkan.
* Cenderung terikat pada aturan-aturan.
* Dominan, konservatif, dan otoriter.
* Mempunyai pemikiran yang tajam.
* Lebih sensitif.
* Banyak anak pertama yang mendapat posisi puncak seperti direktur atau CEO. Tak sedikit anak pertama yang merasa menderita karena tidak sukses.
Anak kedua atau tengah
* Cenderung lebih mandiri sehingga dapat membentuk karakternya sendiri. Misalnya, sang ibu menggendong adik dan bapak memegang kakak, ia tidak tahu harus bergantung pada siapa. Akhirnya ia menjadi anak yang lebih mandiri.
* Karena terabaikan, anak kedua atau tengah cenderung mempunyai motivasi tinggi, bisa dalam hal prestasi maupun sosialisasi.
* Cenderung lebih bebas dari harapan orangtua dan independen.
* Pandai melihat situasi.
* Aturan yang diterapkan lebih longgar. Anak kedua umurnnya diperbolehkan melakukan hal-hal tertentu dengan sedikit batasan.
* Berjiwa petualang. Suka berteman dan hidup berkelompok.
* Bebas mengekspresikan kepribadiannya yang unik.
* Cenderung lebih ekspresif. Berambisi untuk melampaui kakaknya, terlebih bila jarak usianya berdekatan.
* Walau cenderung suka melawan, anak kedua biasanya lebih mudah beradaptasi.
* Tidak rapi.
* Memiliki bakat seni.
* Cenderung sangat membutuhkan kasih sayang.
* Kerap kesulitan menggambarkan kepribadiannya.
* Cenderung merasa tidak disayang orangtua dan merasa tidak bisa lebih baik daripada kakaknya.
Bungsu
* Tergolong anak yang sulit karena mempunyai kakak yang dijadikan model.
* Kerap merasa inferior (rendah diri), tidak sehebat kakak-kakaknya.
* Dalam pengasuhan kerap dibantu orang sekitar, sehingga tidak terlalu sadar dengan potensi dirinya.
* Cenderung dimanjakan dan kasih sayang banyak tercurah padanya. Lebih merasa aman.
* Cenderung tidak dewasa dan kurang bertanggung jawab.
* Biasanya paham bahwa mereka termasuk spesial.
* Dianggap sebagal “anak kecil” terus menerus.
* Aturan yang diberlakukan padanya lebih longgar.
* Hanya diberi sedikit tanggung jawab dalam keluarga.
* Umumnya tidak diberi banyak tugas, dan tak perlu mengasuh adik.
* Sedikitnya pengalaman dalam belajar bertanggung jawab membuat si bungsu menghindari tanggung jawab dan komitmen, terutama bila orangtua senang memperlakukannya sebagai “bayi”.
* Lebih spontan dan mempunyai jiwa yang lebih bebas.
* Banyak komedian dan pembawa acara merupakan anak tengah atau anak bungsu karena bebas mengembangkan kepribadian mereka yang unik.
Ia mengamati, anak-anak sesuai urutan kelahirannya dalam keluarga memegang posisi kekuasaan yang berbeda. Pencarian identitas dan perhatian dipengaruhi oleh posisi urutannya. Perbedaan lingkungan yang hadir pada anak pertama, tengah, dan bungsu juga bisa membawa mereka pada kepribadian yang berbeda.
Dalam dalilnya, seperti dikutip dari forum diskusi psikologi di sebuah situs psikologi, disebutkan bahwa dalam pandangan Adler semua anak berusaha menjadi superior dan berjuang demi mendapat perhatian,serta kasih sayang orangtuanya. Mereka umumnya berkompetisi untuk menarik perhatian. Kondisi ini membentuk kepribadian mereka berbeda dan mencerminkan usaha mencari perhatian.
Disebutkan Adler, setiap anak lahir dalam tahapan berbeda. Sebagai contoh, anak pertama lahir dalam keluarga kecil, sehingga ía menerima banyak perhatian. Lalu anak kedua lahir dalam keluarga yang sudah terdapat anak yang lebih tua. Pada tahap ini, anak pertama umumnya lebih vokal dalam memberitahu adiknya atas apa yang harus dikerjakan serta bagaimana mengerjakannya.
Di sisi lain, anak kedua cenderung mengamati anak pertama. Ia merasa harus berkompetisi untuk mendapat perhatian dan kasih sayang. Anak kedua menemukan jalan yang berlainan untuk menjadi pusat perhatian. Mereka cenderung memilih jenis olahraga, hobi, dan areal yang berbeda dalam mencapai sesuatu. Sama halnya dengan ciri kepribadian mereka yang berbeda.
Anak terakhir biasanya mempunyai tantangan lebih sulit lagi. Terlebih pada masa ini, keluarga sudah dipenuhi oleh anak yang jumlahnya tidak satu, dengan usia lebih tua pula. Anak bungsu cenderung tidak sekuat yang dilihat. Mereka lebih bébas membentuk kepribadiannya, dan tidak dituntut menjadi high achiever.
Mereka tidak mendapat tekanan kuat dari orangtua untuk mencapai sesuatu lebih tinggi. Sebaliknya, mereka mendapat tekanan untuk tetap menjadi ‘bayi” atau anak kecil. Dengan begitu mereka tidak bisa tumbuh dengan cepat, walaupun menurut Adler, anak bungsu lebih santai dan lebih bebas.
Urutan anak dalam keluarga sangat kompleks. Faktor seperti usia orangtua, urutan anak serta jenis kelamin saudara, agama, dan keyakinan budaya serta variabel penting lainnya juga berperan dalam membuat tahapan atas sesuatu yang dipelajari anak.
Ciri Anak Berdasarkan Urutan Kelahiran
Menurut Roslina Verauli, MPsi., karakteristik anak bisa dilihat berdasarkan urutan kelahiran seperti yang disebutkan bapak psikologi individual, Alfred Adler.
Sulung
* Kerap terbebani dengan harapan atau keinginan orangtua. Anak pertama sangat penting bagi ego orangtua. Itu sebabnya, si sulung didorong untuk mencapai standar sangat tinggi sebagai representasi orangtua.
* Cenderung tertekan.
* Senang menjadi pusat perhatian. Perkembangan kepribadiannya lebih optimal saat ia memperoleh perhatian.
* Orangtua cenderung lebih memperhatikan dalam mendidik anak pertama.
* Anak pertama biasanya seorang high achiever (memiliki keinginan berprestasi tinggi).
Saat adik lahir, ia mempunyai tempat kehormatan bagi adik. Meski begitu, saat pusat perhatiannya terganggu oleh adik, ia bisa iri dan tidak aman.
* Cenderung diberi tanggung jawab oleh orangtua untuk menjaga adiknya.
* Belajar bertanggung jawab dan mandiri melalui kegiatan sehari-hari.
* Dapat diandalkan.
* Cenderung terikat pada aturan-aturan.
* Dominan, konservatif, dan otoriter.
* Mempunyai pemikiran yang tajam.
* Lebih sensitif.
* Banyak anak pertama yang mendapat posisi puncak seperti direktur atau CEO. Tak sedikit anak pertama yang merasa menderita karena tidak sukses.
Anak kedua atau tengah
* Cenderung lebih mandiri sehingga dapat membentuk karakternya sendiri. Misalnya, sang ibu menggendong adik dan bapak memegang kakak, ia tidak tahu harus bergantung pada siapa. Akhirnya ia menjadi anak yang lebih mandiri.
* Karena terabaikan, anak kedua atau tengah cenderung mempunyai motivasi tinggi, bisa dalam hal prestasi maupun sosialisasi.
* Cenderung lebih bebas dari harapan orangtua dan independen.
* Pandai melihat situasi.
* Aturan yang diterapkan lebih longgar. Anak kedua umurnnya diperbolehkan melakukan hal-hal tertentu dengan sedikit batasan.
* Berjiwa petualang. Suka berteman dan hidup berkelompok.
* Bebas mengekspresikan kepribadiannya yang unik.
* Cenderung lebih ekspresif. Berambisi untuk melampaui kakaknya, terlebih bila jarak usianya berdekatan.
* Walau cenderung suka melawan, anak kedua biasanya lebih mudah beradaptasi.
* Tidak rapi.
* Memiliki bakat seni.
* Cenderung sangat membutuhkan kasih sayang.
* Kerap kesulitan menggambarkan kepribadiannya.
* Cenderung merasa tidak disayang orangtua dan merasa tidak bisa lebih baik daripada kakaknya.
Bungsu
* Tergolong anak yang sulit karena mempunyai kakak yang dijadikan model.
* Kerap merasa inferior (rendah diri), tidak sehebat kakak-kakaknya.
* Dalam pengasuhan kerap dibantu orang sekitar, sehingga tidak terlalu sadar dengan potensi dirinya.
* Cenderung dimanjakan dan kasih sayang banyak tercurah padanya. Lebih merasa aman.
* Cenderung tidak dewasa dan kurang bertanggung jawab.
* Biasanya paham bahwa mereka termasuk spesial.
* Dianggap sebagal “anak kecil” terus menerus.
* Aturan yang diberlakukan padanya lebih longgar.
* Hanya diberi sedikit tanggung jawab dalam keluarga.
* Umumnya tidak diberi banyak tugas, dan tak perlu mengasuh adik.
* Sedikitnya pengalaman dalam belajar bertanggung jawab membuat si bungsu menghindari tanggung jawab dan komitmen, terutama bila orangtua senang memperlakukannya sebagai “bayi”.
* Lebih spontan dan mempunyai jiwa yang lebih bebas.
* Banyak komedian dan pembawa acara merupakan anak tengah atau anak bungsu karena bebas mengembangkan kepribadian mereka yang unik.
Perasaan dan Harapan Remaja Pria Saat Memasuki Pubertas
Masa remaja suatu tahap dalam perkembangan manusia, merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa yang diawali dengan pubertas. Pubertas ditandai dengan perubahan besar pada biologis yang menjadikan remaja mahluk social dan mampu bereproduksi. Pada remaja pria, perubahan yang terjadi adalah peristiwa ejakulasi pertama (spermarche) dan juga perubahan seks sekunder, seperti kumis, suara yang menjadi lebih besar dan dalam, rambut di kemaluan, dan ketiak, kulit berminyak, dan sebagainya.
Pubvertas merupakan priode yang singkat, namun bagi sebagian orang dianggap sebagai priode yang sulit bagi remaja dan mempengaruhi keadaan fisik and psikologis remaja di masa selanjutnya. Sehingga membutuhkan penyesuaian diri yang baik. Di Indonesia, pentingnya pemberian pendidikan seks pada remaja masih dipengaruhi mitos tradisional yaitu dapat meningkatkan perilaku seksual. Sedangkan Kuther (2000), menyatakan persiapan secara psikologis yang di berikan pada remaja sebelum mereka memasuki masa pubertas menentukan sikap dan perasaan mereka terhadap peristiwa yang terjadi pada masa tersebut. Selain itu ketika kita membicarakan pubertas, anak perempuan cenderung untuk memperoleh perhatian yang lebih besar. Ini terlihat dari penelitian ataupun pelayanan kesehatan yang berhubungan dengan pubertas remaja pria yang hampir tidak ada.
Oleh karena itu, agar dapat memberikan informasi sebagai persiapan memasuki pubertas yang tepat dan sesuai kebutuhan remaja, perlu diketahui perasaan dan harapan yang timbul pada mereka saat memasuki pubertas.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai perasaan dan harapan remaja pria yang timbul saat mereka memasuki pubertas. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode wawancara. Subyek penelitian adalah remaja pria yang telah memasuki usia pubertas dalam kurun waktu hingga dua tahun, sehingga diharapkan mereka telah mengalami spermarche dan perubahan seks sekunder. Selain itu subyek mendapat pendidikan seks, sebelum ataupun setelah memasuki pubertas.
Pada umumnya, selain terjadi perubahan biologis dan fisik, terjadi juga perubahan psikologis, yaitu sikap dan perilaku yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar mereka (Sprinthall, 1995). Selain itu perubahan tersebut juga di pengaruhi oleh perasaan yang timbul dalam diri mereka mengenai peristiwa yang dialami saat memasuki pubertas, seperti perasaan yang positif, negatif, ataupun gabungan dari kedua perasaan tersebut.
Setelah memasuki pubertas, dalam diri mereka juga timbul harapan, yang merupakan keinginan untuk mencapai tujuan atau keadaan tertentu.
Hasil penelitian ini secara umum, meskipun subyek telah mendapat pendidikan seks, pengetahuan mereka tentang seksualitas remaja kurang. Subyek juga merasa kurang dipersiapkan sebelum memasuki pubertas. Perasaan yang timbul terhadap spermarche pada setengah jumlah subyek adalah perasaan negatif berupa perasaan takut, bingung dan cemas. Sedangkan pada sebagian subyek lainnya adalah perasaan positif, karena tanda mulai dewasa.
Subyek merasakan adanya perubahan sikap dan perilaku setelah memasuki pubertas. Pada umumnya perubahan sikap dan perilaku yang terjadi timbul karena dipengaruhi oleh perubahan perlakuan yang diterima subyek dari lingkungan sekitar mereka.
Subyek juga tidak merasa terganggu dengan keadaan mereka yang early atau late maturers, seperti yang dikemukakan dalam beberapa literatur, berdasarkan penelitian yang dilakukan pada remaja pria di luar Indonesia.
Harapan yang dikemukakan oleh sebagian besar subyek lebih berorientasi pada diri sendiri dan lingkungan terdekat mereka seperti keluarga, teman, dan sekolah.
Dari penelitian yang dilakukan, penulis menyarankan untuk memberikan pendidikan seks pada remaja pria, sebelum mereka memasuki pubertas sesuai dengan tingkat perkembangannya. Pemberian penyuluhan pada orangtua dan pendidik dalam memberikan pendidikan seks pada remaja pria juga disarankan agar mereka mengetahui pentingnya pendidikan seks dan dapat memberikan informasi yang dibutuhkan sesuai yang dibutuhkan remaja. Untuk penelitian lebih lanjut disarankan untuk melihat perasaan dan harapan orangtua saat anak memasuki pubertas dan persiapan mereka menghadapi pubertas anak. Penelitian juga dapat diperluas dengan membandingkan remaja pria dari tingkat sosial ekonomi yang berbeda, serta meneliti cara remaja pria mengatasi dorongan seks yang timbul dan perilaku seksnya.
Pubvertas merupakan priode yang singkat, namun bagi sebagian orang dianggap sebagai priode yang sulit bagi remaja dan mempengaruhi keadaan fisik and psikologis remaja di masa selanjutnya. Sehingga membutuhkan penyesuaian diri yang baik. Di Indonesia, pentingnya pemberian pendidikan seks pada remaja masih dipengaruhi mitos tradisional yaitu dapat meningkatkan perilaku seksual. Sedangkan Kuther (2000), menyatakan persiapan secara psikologis yang di berikan pada remaja sebelum mereka memasuki masa pubertas menentukan sikap dan perasaan mereka terhadap peristiwa yang terjadi pada masa tersebut. Selain itu ketika kita membicarakan pubertas, anak perempuan cenderung untuk memperoleh perhatian yang lebih besar. Ini terlihat dari penelitian ataupun pelayanan kesehatan yang berhubungan dengan pubertas remaja pria yang hampir tidak ada.
Oleh karena itu, agar dapat memberikan informasi sebagai persiapan memasuki pubertas yang tepat dan sesuai kebutuhan remaja, perlu diketahui perasaan dan harapan yang timbul pada mereka saat memasuki pubertas.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai perasaan dan harapan remaja pria yang timbul saat mereka memasuki pubertas. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode wawancara. Subyek penelitian adalah remaja pria yang telah memasuki usia pubertas dalam kurun waktu hingga dua tahun, sehingga diharapkan mereka telah mengalami spermarche dan perubahan seks sekunder. Selain itu subyek mendapat pendidikan seks, sebelum ataupun setelah memasuki pubertas.
Pada umumnya, selain terjadi perubahan biologis dan fisik, terjadi juga perubahan psikologis, yaitu sikap dan perilaku yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar mereka (Sprinthall, 1995). Selain itu perubahan tersebut juga di pengaruhi oleh perasaan yang timbul dalam diri mereka mengenai peristiwa yang dialami saat memasuki pubertas, seperti perasaan yang positif, negatif, ataupun gabungan dari kedua perasaan tersebut.
Setelah memasuki pubertas, dalam diri mereka juga timbul harapan, yang merupakan keinginan untuk mencapai tujuan atau keadaan tertentu.
Hasil penelitian ini secara umum, meskipun subyek telah mendapat pendidikan seks, pengetahuan mereka tentang seksualitas remaja kurang. Subyek juga merasa kurang dipersiapkan sebelum memasuki pubertas. Perasaan yang timbul terhadap spermarche pada setengah jumlah subyek adalah perasaan negatif berupa perasaan takut, bingung dan cemas. Sedangkan pada sebagian subyek lainnya adalah perasaan positif, karena tanda mulai dewasa.
Subyek merasakan adanya perubahan sikap dan perilaku setelah memasuki pubertas. Pada umumnya perubahan sikap dan perilaku yang terjadi timbul karena dipengaruhi oleh perubahan perlakuan yang diterima subyek dari lingkungan sekitar mereka.
Subyek juga tidak merasa terganggu dengan keadaan mereka yang early atau late maturers, seperti yang dikemukakan dalam beberapa literatur, berdasarkan penelitian yang dilakukan pada remaja pria di luar Indonesia.
Harapan yang dikemukakan oleh sebagian besar subyek lebih berorientasi pada diri sendiri dan lingkungan terdekat mereka seperti keluarga, teman, dan sekolah.
Dari penelitian yang dilakukan, penulis menyarankan untuk memberikan pendidikan seks pada remaja pria, sebelum mereka memasuki pubertas sesuai dengan tingkat perkembangannya. Pemberian penyuluhan pada orangtua dan pendidik dalam memberikan pendidikan seks pada remaja pria juga disarankan agar mereka mengetahui pentingnya pendidikan seks dan dapat memberikan informasi yang dibutuhkan sesuai yang dibutuhkan remaja. Untuk penelitian lebih lanjut disarankan untuk melihat perasaan dan harapan orangtua saat anak memasuki pubertas dan persiapan mereka menghadapi pubertas anak. Penelitian juga dapat diperluas dengan membandingkan remaja pria dari tingkat sosial ekonomi yang berbeda, serta meneliti cara remaja pria mengatasi dorongan seks yang timbul dan perilaku seksnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
